Subhanalloh, Alhamdulillah, Lahaula walaquwwata illa billah.
Pada awalnya memang sangat kaget di tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Bahkan seumur hidupku, baru kali ini merasa begitu sepi dan dinginnya Ramadhan. Tanpa hiruk pikuk dan ibadah berjamaah. Tanpa kehangatan masjid dan suara tilawah yang bersahutan, setiap jamaah yang memenuhi masjid. Hening dan rasa beku, sangat menggigit perasaan.
Meski begitu, ada banyak waktu yang sangat luas untuk banyak merenung dan berfikir tentang hakikat hidup, bagaimana dunia ini menjadi sangat sejuk dan beristirahat dari hiruk pikuk. Bagaimana burung dan banyak binatang yang biasanya setiap pagi hampir tak pernah aku temui, akhir-akhir ini justru kerap aku temui. Kicau burung, suara serangga malam bahkan hingga aku bertemu tupai melintas di dahan pohon besar dekat rumahku. Mungkin karena tingkat polusi di perkotaan menurun drastis. Udara menjadi sangat segar dan bersih.
Benar memang, bagi manusia kebanyakan ada kekagetan bahkan perubahan ekonomi yang menurun secara bersamaan. Yang kulihat sangat memprihatinkan. Namun itu semua, Alloh yang mengatur dan mencukupkannya. Untuk itu pula kita terasah untuk selalu memperhatikan betapa harus mengamati setiap jengkal tanah dekat rumah kita. Mengamati apakah ada tetangga dekat dan tetangga jauh yang belum menikmati makanan dalam hari ini, atau bahkan beberapa hari.
Hadirnya Ramadhan Mulia, menambah kita sebagai muslim yang ingin berlatih dan mendapat derajat lebih baik di hadapan Alloh untuk lebih peka terhadap sesama, terlebih dalam situasi pandemi yang berefek pada kemampuan masyarakat dalam menghidupi diri dan keluarganya. Memang benar dalam situasi pandemi ini kita dituntut untuk berhemat dan mengatur cukup ketat pengeluaran dan biaya hidup. Namun harus direnungi juga bahwa dengan Shaum kita menjadi lebih peka dan peduli sesama.
Pada awalnya sangat ketat saat mengatur pengeluaran hidup terutama biaya konsumsi makanan. Tapi justru dengan banyak situasi teman-teman yang bertahan hidup dari penghasilan harian. Ada bagian yang secara sengaja disisihkan untuk membeli produk teman-teman UKM (Usaha Kecil Menengah), terutama yang menyediakan makanan harian, takjil bahkan bahan makanan seperti sayuran, buah, madu, panganan sehat, kurma dan sejenisnya.
Rasa berat dan kecewa dengan keadaan tidak lagi ada dalam benak. Mungkin sudah mulai nyaman dengan tenangnya ritme kerja dari rumah, mungkin juga memang Alloh menghadirkan rasa nyaman dan karunia ini sangat aku nikmati. Berkumpul dengan keluarga, komunikasi semakin baik dan semakin banyak waktu untuk saling memahami, yang sebelumnya mungkin sangat tidak efektif dalam berkomunikasi hingga tidak tercapai saling memahami satu dengan lainnya.
Saat ini aku sangat berharap pada Alloh, pandemi segera berakhir, namun jangan Kau cabut juga nikmat ketenangan dan semua yang ada dan hadir sepanjang pandemi dan kegiatan “Dirumahaja” . Hingga umat manusia dimuka bumi ini menjadi manusia baru yang hidup di “Era Baru” lebih baik, lebih peka, lebih sholih, lebih sehat, lebih sejahtera, lebih bijak kepada Bumi, semesta dan segala isinya. Juga semakin banyak manusia yang menyadari bahwa Engkaulah yang mengatur segalanya. Daun jatuh pun karena kehendakNya. Apalagi pandemi dan segala perubahan yang menyertainya. Semoga menjadi hikmah dan akibat yang baik bagi seluruh manusia di muka bumi. Amiin