Rabu, 06 Mei 2020

Ramadhan Pandemi

Subhanalloh, Alhamdulillah, Lahaula walaquwwata illa billah.
Pada awalnya memang sangat kaget di tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Bahkan seumur hidupku, baru kali ini merasa begitu sepi dan dinginnya Ramadhan. Tanpa hiruk pikuk dan ibadah berjamaah. Tanpa kehangatan masjid dan suara tilawah yang bersahutan, setiap jamaah yang memenuhi masjid. Hening dan rasa beku, sangat menggigit perasaan.
Meski begitu, ada banyak waktu yang sangat luas untuk banyak merenung dan berfikir tentang hakikat hidup, bagaimana dunia ini menjadi sangat sejuk dan beristirahat dari hiruk pikuk. Bagaimana burung dan banyak binatang yang biasanya setiap pagi hampir tak pernah aku temui, akhir-akhir ini justru kerap aku temui.  Kicau burung, suara serangga malam bahkan hingga aku bertemu tupai melintas di dahan pohon besar dekat rumahku. Mungkin karena tingkat polusi di perkotaan menurun drastis. Udara menjadi sangat segar dan bersih.
Benar memang, bagi manusia kebanyakan ada kekagetan bahkan perubahan ekonomi yang menurun secara bersamaan. Yang kulihat sangat memprihatinkan. Namun itu semua, Alloh yang mengatur dan mencukupkannya. Untuk itu pula kita terasah untuk selalu memperhatikan betapa harus mengamati setiap jengkal tanah dekat rumah kita. Mengamati apakah ada tetangga dekat dan tetangga jauh yang belum menikmati makanan dalam hari ini, atau bahkan beberapa hari.
Hadirnya Ramadhan Mulia, menambah kita sebagai muslim yang ingin berlatih dan mendapat derajat lebih baik di hadapan Alloh untuk lebih peka terhadap sesama, terlebih dalam situasi pandemi yang berefek pada kemampuan masyarakat dalam menghidupi diri dan keluarganya. Memang benar dalam situasi pandemi ini kita dituntut untuk berhemat dan mengatur cukup ketat pengeluaran dan biaya hidup. Namun harus direnungi  juga bahwa dengan Shaum kita menjadi lebih peka dan peduli sesama.
Pada awalnya sangat ketat saat mengatur pengeluaran hidup terutama biaya konsumsi makanan. Tapi justru dengan banyak situasi teman-teman yang bertahan hidup dari penghasilan harian. Ada bagian yang secara sengaja disisihkan untuk membeli produk teman-teman UKM (Usaha Kecil Menengah), terutama yang menyediakan makanan harian, takjil bahkan bahan makanan seperti sayuran, buah, madu, panganan sehat, kurma dan sejenisnya.
Rasa berat dan kecewa dengan keadaan tidak lagi ada dalam benak. Mungkin sudah mulai nyaman dengan tenangnya ritme kerja dari rumah, mungkin juga memang Alloh menghadirkan rasa nyaman dan karunia ini sangat aku nikmati. Berkumpul dengan keluarga, komunikasi semakin baik dan semakin banyak waktu untuk saling memahami, yang sebelumnya mungkin sangat tidak efektif dalam berkomunikasi hingga tidak tercapai saling memahami satu dengan lainnya.
Saat ini aku sangat berharap pada Alloh, pandemi segera berakhir, namun jangan Kau cabut juga nikmat ketenangan dan semua yang ada dan hadir sepanjang pandemi dan kegiatan “Dirumahaja” .  Hingga umat manusia dimuka bumi ini menjadi manusia baru yang hidup di “Era Baru” lebih baik, lebih peka, lebih sholih, lebih sehat, lebih sejahtera, lebih bijak kepada Bumi, semesta dan segala isinya. Juga semakin banyak manusia yang menyadari bahwa Engkaulah yang mengatur segalanya. Daun jatuh pun karena kehendakNya. Apalagi pandemi dan segala perubahan yang menyertainya. Semoga menjadi hikmah dan akibat yang baik bagi seluruh manusia di muka bumi. Amiin

Senin, 04 Mei 2020

Pojok Kelas

“Hari ini hanya ada 3 orang yg sy kasih…hadiah, oke…” Seru Miss Ikha mengejutkan keheningan. Seisi ruangan terperanjat, bersiap mendengarkan siapa nama yang akan Miss Ikha sebut hari itu. Bukan hal istimewa saat Miss Ikha mengungkapkan apa yang ia maksud sebagai ‘hadiah’.
Sementara ada sesosok siswa yang tenang saja, menatap jendela kelas ke arah luar. Seraya bergumam,”Pasti namaku ada diantaranya….Hhmmmmhh”
Ia sangat yakin, karena ia siswa kesayangan Miss Ikha. 
Yaaah… Itulah guru kimia yang sangat memperhatikan perkembangan nilai dan pilihan jurusan kuliah yang ia akan pilih dlm 1-2bulan ini.
“Zico, Liya, dan kamu…Er, silahkan saya tunggu di ruang mentor, siswa yang lain silahkan meninggalkan kelas” kalimat penutup dari Miss Ikha mengakhiri kelas diikuti sorak bahagia siswa yang meninggalkan kelas.
Tinggal aku dan dua temanku, saling bertatapan dan segera menyusul Miss Ikha di Ruang Mentor.
Tentu saja, Hadiah Miss Ikha buat mereka bertiga bukan hal yg menyenangkan…, Tapi memang Er sudah langganan dapet hadiah. 
Kali ini , hadiah ya adalah Tugas menghafal PeriodicTable of Elements, itu lho…Tabel Susunan Unsur Periodik Kimia, di test lisan untuk pekan depan.
Hehe…, Segitu sayangnya dia sampe hadiahnya seistimewa ini….
Sosok Miss Ikha, mentor Bimbel ku di Biru Langitmengingatkanku selalu pada sosok yang selalu mengisi hari- hariku, di Rumah Sakit 2 bulan lalu. Tubuhnya yang mungil, sikap yang tegas namun hangat dan perhatian. Tatapan nya tajam, namun menyejukkan. Suaranya khas, sedikit berat dan agak sengau seperti orang sedang flu, tak akan ada yang menyangka jika dia bernyanyi akan seindah suara Raisa atau Isyana. Tentu hanya sosok fisiknya saja yang mirip Miss Ikha. ‘Teteh’ , itulah sebutan ku untuknya.
Tetehku menghilang tanpa kabar, setelah peristiwa itu. Ada sesal dan beban dalam jiwaku kini. Ingin rasanya mengubah semua, namun tak mungkin. Kucari jejaknya, hingga kini tak bisa kutemukan.
Pojok Kelas ini menjadi saksi saat awal aku bertemu Teh Hani, sebagai mentor pertama yang meyakinkanku bahwa aku bisa bangkit, meski aku tertinggal pelajaran sekolah sebab penyakit yang menderaku hampir dari 3 bulan di rumah sakit. 
Meningitis, itu istilah yang sering kudengar dari perawat dan dokter saat visite rutin setiap harinya di rumah sakit saat aku dirawat untuk waktu yang lama.
Aku bersyukur melewati masa kritis lebih dari 2 pekan di ICU, dalam keadaan koma. Melalui perawatan hingga lebih dari 2 bulan. Dan kembali ke sekolah, dengan perasaan kurang percaya diri. Kedua orang tuaku menyarankanku untuk mengambil pelajaran tambahan dengan bantuan Bimbingan belajar semi private di Lembaga Biru Langit dekat Rumah Sakit Harapan, agar jika aku jadwal terapi di Rumah sakit dengan mudah aku berjalan ke tempat Bimbelku.
Dari pojok kelas ini aku mengingat semua interaksiku dengan Miss Hani, yang lebih sering aku panggil dengan teteh itu. Mulai ia memperkenalkan diri sebagai mentor baru di Bimbel ini, hingga dengan segenap perhatian dan dedikasinya pada siswa yang ia bimbing, saat aku pingsan dan kejang. Beliau sendiri yang mengantarku ke IGD dan tanpa ragu dia merawat seluruh keperluanku, sebab ia memahami aku anak tunggal keluargaku. Dan saat aku jatuh sakit dalam keadaan koma, kedua orangtuaku pun pergi tuk selamanya dalam sebuah kecelakaan tunggal. 


Hari ini pun aku meningalkan pojok kelas ini, untuk segera menemui Miss Ikha. Kutarik nafas dalam-dalam, dan melepas sejenak ingatanku tentang Misss Hani alias Teh Hani (my honey). Orang yang sangat berarti dalam hidupku. Cepat atau lambat harus kutemui, karena menyangkut masa depanku, beban hatiku sekaligus menenangkan hatiku.